Stimuno, Si Penguat Sistem Imun March 11, 2006
Posted by rhamnosa in Info Obat.21 comments
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Istilah ini tampaknya cocok untuk memperkenalkan sistem imun tubuh atau dikenal juga sebagai sistem pertahanan tubuh.
Imunostimulan berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya menguatkan sistem imun tubuh. Salah satu imunostimulan yang telah teruji klinis adalah STIMUNO yang telah memperoleh sertifikat FITOFARMAKA dari Badan POM karena terlah terstandarisasi dan telah lolos uji pre klinis (uji keamanan) dan uji klinis (pembuktian khasiatnya). STIMUNO terbuat dari ekstrak meniran (Phyllanthus niruri L).
Hasil dari riset pra-klinik menunjukkan ekstrak Phyllanthus niruri L dapat memodulasi sistem imun lewat proliferasi dan aktivasi limfosit T dan B, serta sekresi beberapa sitokin spesifik seperti interferon-gamma, tumor necrosis factor-alpha dan beberapa interleukin, aktivasi sistem komplemen, aktivasi sel fagositik seperti makrofag, dan monosit juga meningkatkan jumlah sel NK (Natural Killer Cell). Dari hasil uji dapat diduga bahwa extract tersebut dapat digunakan sebagai terapi ajuvan penyakit-penyakit infeksi akut dan kronis, seperti TBC, Hepatitis, ISPA, herpes zoster, dsb.
Imunomodulator ini diperlukan dalam kondisi kelelahan, kurang istirahat, stress, berpergian jauh, kontak dengan penderita infeksi atau berada di tempat yang diserang wabah.
Profil Produk:
Nama
STIMUNO
Generik
Ekstrak herba Phyllanthus niruri L
Indikasi
Immunomodulator, sebagai terapi tambahan untuk infeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri seperti gondong, cacar air, herpes, virus hepatitis B, membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan fungsi hati.
Perhatian
Kocok dahulu sebelum diminum.
Kemasan
Sirup 25 mg/5 mL x 100 mL.
Kapsul 50 mg x 6 x 10.
DOSIS
Dewasa : 3 kali sehari 1 kapsul.
Dapat diberikan sampai dengan 30 hari atau lebih
Dosis untuk anak-anak :
- 1-2 tahun : 3 x ½ sendok takar / hari
- 2-6 tahun : 3 x 1 sendok takar / hari
- 6-12 tahun : 3 x 1 ½ sendok takar / hari
- >12 tahun : 3 x 2 sendok takar / hari
Dapat diberikan sampai dengan 30 hari atau lebih. Note :
1 sendok takar = 5 ml sirup
( nana & gia )
Sumber : www.medicastore.com
www.dexa-medica.com
Asma March 11, 2006
Posted by rhamnosa in First Aid.11 comments
Asma adalah penyempitan jalur pernafasan yang menyebabkan penderita sulit bernafas. Penderita asma umumnya memiliki jalur pernafasan yang sensitif sehingga hal-hal seperti debu, serbuk sari tumbuhan, bulu hewan, asap rokok, dan suhu dingin dapat menjadi pemicu terjadinya serangan asma.
Ciri-ciri :
• Penderita mengalami kesulitan bernafas dan biasanya mengeluarkan unyi ngik..ngik..
• Penderita tampak gugup atau tertekan (stress)
• Pada kasus yang parah, akan tampak kebiruan pada bibir, tangan, dan kaki; terkadang disertai kesulitan untuk berbicara.
Pertolongan Pertama
1. Tenangkan penderita
2. Bantu penderita untuk duduk secara perlahan dengan posisi badan sedikit condong ke depan.
3. Bantu penderita menggunakan obatnya. Biasanya dalam bentuk spray aerosol. Penderita asma umumnya sudah mengetahui cara penggunaan dan dosis dari obatnya.
4. Cek denyut nadi dan pernafasan penderita setiap 10 menit.
5. Apabila serangan asma terus berlanjut dan tidak tersedia obat-obatan, segera panggil ambulans dari rumah sakit terdekat dari tempat tinggal Anda.
Manfaat Virgin Coconut Oil Pada Manusia March 11, 2006
Posted by rhamnosa in GIZI.13 comments
Minyak kelapa virgin memang dikenal sebagai minyak yang mampu melangsingkan tubuh sehingga bukan hal yang aneh lagi bila minyak kelapa ini digemari oleh para perempuan yang memahami akan manfaatnya. Setelah dilakukan beberapa penelitian oleh para ahli ternyata minyak kelapa virgin ini memiliki khasiat yang luas selain sebagai pelangsing tubuh, minyak kelapa virgin juga bermanfaat sebagai obat untuk berbagai penyakit.
Minyak kelapa virgin berasal dari daging buah kelapa yang telah diproses melalui beberapa tahapan diantaranya ekstraksi, filtrasi, purifikasi dan deodorasi. Minyak virgin yang didapat, mengandung suatu asam lemak jenuh yaitu lauric acid. Lauric acid “asam laurik” ini merupakan suatu asam lemak jenuh dengan rantai karbon sedang (memiliki 12 atom karbon) yang disebut Medium Chain Fatty Acid atau MCFA.
Masyarakat pada umumnya takut terhadap MCFA disebabkan oleh mitos-mitos serta isu-isu akan bahaya MCFA. Padahal MFCA ini, telah diujikan oleh beberapa ahli dan ternyata MCFA berkhasiat untuk mempertahankan kesehatan tubuh.
Di dalam tubuh MCFA mempunyai sifat unik, yaitu tidak membutuhkan enzim untuk menembus dinding mitokondria sehingga proses metabolisme tubuh akan meningkat dan energi dihasilkan dengan cepat dan efisien. Penambahan energi yang dihasilkan oleh metabolisme itu menghasilkan efek stimulasi dalam seluruh tubuh. Itulah sebabnya ada orang mengatakan, mengonsumsi MCFA mirip dengan mengisi kendaraan dengan menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan tinggi.
Di samping meningkatkan level energi kita, ada manfaat lain seiring dengan peningkatan metabolisme itu misalnya, peningkatan daya tahan terhadap penyakit dan percepatan penyembuhan dari sakit. Dengan peningkatan metabolisme, sel-sel kita bekerja lebih efisien. Mereka membentuk sel-sel baru serta mengganti sel-sel yang rusak dengan lebih cepat.
Uji akan khasiat MCFA ini telah dilakukan salah satunya dengan penggunaan minyak kelapa virgin sebagai minyak goreng. Dari uji tersebut didapat hasil bahwa minyak kelapa virgin berkhasiat untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap beberapa penyakit diantaranya virus-virus seperti HIV, Herpes simplex virus-1 (HSV-1), Vesicular stomatitis virus (VSV), Visna virus, cytomegalovirus (CMV), influenza, dan berbagai bakteri patogen termasuk Listeria monocytogenes dan Helicobacter pyloryd, serta protozoa seperti Giadia lamblia.
Dalam pemanfaatannya, minyak kelapa Virgin dapat dikonsumsi secara langsung, atau dipakai untuk memasak. Dengan struktur kimia yang terdiri dari single bond “ikatan tunggal”, minyak ini bersifat tahan terhadap panas, cahaya, oksigen, dan tahan terhadap proses degradasi. Dengan sifat itu, minyak kelapa virgin dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun. (fik)
Sumber : www.gizi.net
Chitosan, Pengawet atau Suplemen Diet? March 3, 2006
Posted by rhamnosa in GIZI.5 comments
Baru-baru ini kita dikejutkan oleh penemuan kadar formalin yang berlebihan di sampel-sampel makanan di pasaran. Untuk mayat kok dibalur ke ikan asin? Tak pelak lagi, terjadi penurunan drastis pembelian bahan makanan suspect berformalin, seperti mie basah, ikan asin, dan tahu. Namun, bukan masalah namanya jika tanpa solusi. Pengawet aman seperti chitosan, beberapa penelitian mengungkapkan, dapat menggantikan formalin.
Chitosan adalah serat yang dihasilkan dari deasetilasi chitin, senyawa yang banyak diperoleh di kerangka luar (eksoskeleton) hewan Crustacea seperti udang, kerang, dan kepiting. Penelitian Peniston & Johnson tahun 1980 mengemukakan pada waktu itu sudah digunakan sebagai agen flokulasi untuk air dan penanganan limbah, pengkelat logam berat pada filtrasi larutan, dan pelapis serat kaca. Hingga tahun 1999, 2064 paten telah didaftarkan di Badan Paten Amerika Serikat (US Patent and Trademark Office) menyangkut penggunaan chitosan antara lain sebagai pancing ikan dan benang bedah ramah lingkungan (biodegradable), es krim rendah lemak, dan prostesis serta implan biodegradable. Di bidang farmasi, chitosan juga dapat digunakan dalam mikroenkapsulasi liposom, misalnya untuk insulin oral, agar absorbsinya lebih baik dalam tubuh penderita diabetes.
Dikenalnya chitosan secara umum lebih karena publikasi chitosan sebagai suplemen penurun berat badan oleh Arnold Fox dan Brenda Adderly tahun 1997. Sayangnya, penelitian mereka tidak didukung bukti uji klinis pada manusia, bahwa chitosan bertindak sebagai ‘pengikat’ lemak dalam tubuh dan memudahkan eliminasinya. Bukti yang ada hanyalah berkisar mengenai uji praklinik terhadap ayam dan tikus Wistar. Uji praklinik Tanaka dkk. pada tahun yang sama membantah argumen ini karena penelitiannya yang membuktikan penurunan flora usus normal yang signifikan setelah penggunaan chitosan, sedangkan Deuchi dkk. berhasil mengungkapkan absorbsi mineral dan elemen penting lain seiring dengan absorbsi lemak oleh chitosan. Sampai sekarang, penggunaan suplemen diet chitosan masih kontradiktif sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama uji pada manusia, untuk membuktikan efektivitasnya.
Bagaimana peran chitosan dalam pengawetan makanan? Jurnal Jonathan Rhodes dan Bob Rastall menyebutkan tentang paten produk di Rusia yang menggunakan chitosan sebagai pengawet untuk kaviar, yang dinyatakan efektif dengan kombinasi masing-masing 0,1% chitosan dan asam sorbat. Penelitian lain oleh Muhannad Jumaaa dkk. tahun 2002 berhasil membuktikan kemampuan pengawetan chitosan untuk emulsi lemak yang dapat diaplikasikan dalam formulasi sediaan farmasi. Namun, banyak pula penelitian yang menyatakan penambahan chitosan tidak mempengaruhi masa simpan atau pertumbuhan mikroba dalam produk, seperti yang dilakukan oleh S. Roller & N. Covil di Inggris. Ada juga yang menyatakan kombinasi chitosan dengan pengawet lain baru dapat memberikan perbedaan efektivitas yang nyata. Lagi-lagi, masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk menggali lebih jauh kemampuan chitosan baik sebagai suplemen diet maupun pengawet makanan. Anda tertantang?
Sumber:
http://ntp.niehs.nih.gov/ntpweb/
http://www.bodybuildingforyou.com
http://www.ncbi.nlm.nih.gov
http://www.chitinchitosan.net
http://www.csa.com